Kamis, 21 Juni 2012

Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Pada Anak Tunalaras

Gagad Ribowo
11103241034
PLB/FIP/UNY

ABSTRAK
            Hal-hal yang disampaikan dalam tulisan ini bertujuan untuk memberi penjelasan terhadap perilaku menyakiti diri sendiri yang ditunjukkan oleh anak tunalaras. Perilaku menyakiti diri sendiri dapat diartikan sebagai tindakan yang disengaja untuk melukai tubuh sendiri. Perilaku ini akan berakibat pada luka tubuh yang dialami oleh pelaku baik itu yang beresiko ringan ataupun berat. Perilaku menyakiti diri sendiri ini dapat disebabkan karena beberapa faktor yang mendorong terjadinya perilaku seperti faktor biologis, psikodinamika,  ataupun  behavioristik. Perasaan  yang kacau  pada  anak  yang  mengalami  perilaku  ini
menyebabkan terganggunya pendidikan yang harus mereka jalani. Dalam tulisan ini juga membahas tentang cara-cara yang dapat ditempuh untuk  pengendalian perilaku menyakiti diri sendiri ini. Metode yang digunakan dalam penulisan mengacu pada teori-teori yang telah ada sebelumnya dengan menambahkan pendapat penulis. Dengan adanya pendapat dari para ahli ini diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal dalam mengupas tentang perilaku menyakiti diri sendiri ini. Karena perilaku menyakiti diri sendiri ini merupakan perilaku yang berbahaya bagi anak hingga dapat menyebabkan luka permanen. Sehingga pemahaman tentang perilaku ini diharapkan dapat mencegah ataupun mengurangi dampak perilaku yang dapat membahayakan diri tersebut.
Kata kunci : perilaku, menyakiti diri sendiri,


PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial sehingga berperilaku kurang sesuai dengan lingkungan. Perilaku anak tunalaras yang mudah untuk dikenali, dan mempunyai dampak langsung pada masyarakat ialah perilaku agresif. Perilaku agresif merupakan perilaku yang disengaja yang mengakibatkan atau berdampak melukai  seseorang atau merusak barang-barang, dan dilakukan dengan intensitas tinggi. Salah satu perilaku yang termasuk dalam perilaku agresif ini ialah perilaku menyakiti diri sendiri.
            Perilaku menyakiti diri sendiri (self injurition behavior –SIB) ini mungkin dianggap perilaku yang aneh karena melukai dirinya sendiri. Sunardi (1995: 118) menyatakan, “Mereka dengan sengaja menyakiti diri sendiri secara berulang-ulang dalam berbagai bentuk perilaku yang menyebabkan luka tubuh”. Perilaku ini juga merupakan perilaku yang sangat berbahaya yang dapat menyebabkan luka tubuh bahkan yang paling berbahaya jika perilaku ini sampai menyebabkan kematian bagi pelakunya. Hal inilah yang menjadi dasar pembuatan makalah ini, sehingga diharapkan pembaca dapat mengetahui tentang perilaku menyakiti diri sendiri, akibat yang ditimbulkan, penyebab terjadinya serta penanganan perilaku menyakiti diri sendiri ini.

B.  Rumusan Masalah
1.      Pengertian perilaku menyakiti diri sendiri ?
2.      Apa akibat yang ditimbulkan dari perilaku menyakiti diri sendiri ?
3.      Penyebab terjadinya perilaku menyakiti diri sendiri ?
4.      Masalah pendidikan yang dihadapi oleh seseorang yang melukai diri sendiri ?
5.      Pengendalian perilaku menyakiti diri sendiri ?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian perilaku menyakiti diri sendiri
2.      Mengetahui akibat yang ditimbulkan dari perilaku menyakiti diri sendiri
3.      Mengetahui penyebab terjadinya perilaku menyakiti diri sendiri
4.      Mengetahui masalah pendidikan yang dihadapi oleh seseorang yang melukai diri sendiri.
5.      Mengetahui bagaimana mengendalikan perilaku menyakiti diri sendiri ini.




PEMBAHASAN
A.  Pengertian Perilaku Menyakiti Diri Sendiri
            Perilaku menyakiti diri sendiri merupakan perilaku yang menyebabkan luka tubuh pada pelakunya sendiri dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Perilaku ini mungkin dianggap sebagai ketunalarasan yang aneh dan sangat berbahaya karena akan menyebabkannya luka tubuh. Tindakan menyakiti diri sendiri ini dapat merupakan pengalihan dari rasa sakit yang diderita. Misalnya, orang yang baru saja terlepas dari ketergantungan narkotika. Rasa sakit yang intensif dan kuat, menyebabkan pasien membenturkan kepalanya, dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit disekujur tubuhnya. Namun, perilaku ini kebanyakan dilakukan oleh penyandang tunalaras tingkat berat, yaitu psikotik, autistik, atau schizopherinik. Mereka dengan sengaja melukai tubuh mereka sendiri secara berulang-ulang sehingga menyebabkan luka tubuh. Ada beberapa contoh perilaku ini yang diungkapkan oleh ahli.
            ”Beberapa contoh perilaku menyakiti diri sendiri, misalnya, menampar atau meninju mukanya; membenturkan kepalanya pada tembok, lantai, atau benda di dekatnya; menggigit jari-jari, tangan, lengan, kaki, lidah dan bibirnya; mencabuti rambutnya, alisnya; menggaruk tubuhnya dengan benda tajam; menusukkan benda runcing ke tubuhnya; menyayat tubuhnya dengan silet, pisau, dll. Semua tindakkan itu dilakukan dengan intensitas, kecepatan, dan kemauan tinggi”. Kauffman, (dalam Sunardi, 1995: 118)
Dari beberapa pengungkapan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku melukai diri  ialah perilaku yang disengaja untuk melukai dirinya sendiri sehingga berakibat terjadinya luka tubuh.

B.  Akibat dari Perilaku Menyakiti Diri Sendiri
            Perilaku menyakiti diri sendiri ini mempunyai akibat bervariasi dari sangat ringan hingga sangat berat. Sebagian orang melakukan perilaku menyakiti diri sendiri dengan hati-hati sehingga hanya akan berakibat ringan. Sedangkan beberapa orang melakukannya perilaku menyakiti diri sendiri yang berakibat berat dan permanen, seperti  pendarahan,  kebutaan ataupun  kehilangan  anggota  tubuh lain. Menurut Carr (dalam Sunardi, 1995: 118) “Kira-kira 4 sampai 5%  penyandang gangguan jiwa (psikotik, shizophenia, autistik) termasuk mempunyai


SIB tingkat berat”. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak pada tingkat berat ini. Namun, orang yang melakukan perilaku menyakiti diri sendiri ini harus secara fisik dikekang agar terhindar dari perilaku yang lebih parah atau bahkan bunuh diri.
            Bunuh diri merupakan perilaku yang paling berbahya yang biasanya dianggap sebagai akibat dari depresi, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa putusnya harapan merupakan faktor yang lebih kuat. Remaja yang terlibat dalam perilaku bunuh diri ini biasanya mereka kesulitan dalam mengendalikan agresi mereka. Karl Menninger seorang  psikiater Amerika mengatakan bahwa “Bunuh diri sebagai pembunuhan terbalik karena kemarahan terhadap orang lain diarahkan kepada dirinya”. Sehingga bunuh diri dilakukan karena kekecewaan mereka terhadap lingkungan dialihkan kepada dirinya sendiri.

C.  Penyebab Terjadinya Perilaku Menyakiti Diri Sendiri
            Perilaku menyakiti diri sendiri ini dapat disebabkan karena adanya rasa bersalah dan trauma yang berlebihan yang dialami oleh anak. Sehingga anak selalu dihantui oleh perasaan itu yang menjadikan anak ingin mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya dengan melukai dirinya sendiri. Secara lebih rinci penyebab timbulnya Perilaku menyakiti diri sendiri ini diungkapkan oleh Kauffman (dalam Sunardi, 1995: 119) yang membaginya menjadi tiga macam yaitu, konsep biologis, psikodinamika, dan behavioristik.
            Konsep biologis, berasumsi bahwa perilaku menyakiti diri sendiri ini disebabkan oleh kelainan biokimiawi yang dibutuhkan oleh fungsi otak normal, perkembangan system syaraf pusat yang tidak sempurna, dan kekurang pekaan tubuh terhadap rasa sakit. Semua asumsi ini masih belum bisa terbukti kebenarannya karena masih sulitnya untuk meneliti hal tersebut. Asumsi biologis yang paling dapat diterima ialah teori Lesch Nyhan syndrome yang mengatakan bahwa suatu kelainan genetik mengakibatkan gangguan metabolisme disertai oleh
perilaku  menyakiti diri  sendiri.  Jadi  menurut teori ini  ialah  perilaku  menyakiti
diri sendiri ini  disebabkan oleh adanya faktor dari dalam tubuh yang mengakibatkan adanya perilaku menyakiti diri sendiri.
            Konsep psikodinamika, berasumsi bahwa rasa bersalah merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seseorang utntuk melakukan perilaku agresi diri. Menurut Berkovitz dan Rothman (dalam Sunardi, 1995: 120) menyatakan bahwa “Semua bentuk perilaku yang cenderung berbau SIB merupakan ekspetasi dari rasa bersalah yang secara tidak sadar dialami oleh anak, atau yang secara tidak sadar dicoba untuk ditebus oleh anak tersebut”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku menyakti diri sendiri ini didasarkan pada rasa bersalah pada anak sehingga anak ingin menebus atau membayar kesalahannya dengan cara menyakiti diri. Teori Freud didasarkan atas keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan yang kuat yang mempengaruhi tingkah laku manusia yang merupakan energy psikis yang sangat dinamik. Sehingga konsep psikodinamika ini didasari oleh suatu perasaan dalam diri yang sangat kuat sehingga mendorong seseorang untuk melakukan perilaku yang bahkan dapat melukai diri sendiri.
            Konsep behavioristik, berasumsi bahwa perubahan tingkah laku disebabkan karena adanya interaksi antara stimulus dan respon dari lingkungan. Perilaku ini akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila diberikan suatu  hukuman. Sehingga perilaku ini akan terus meningkat semakin kuat dan berbahaya jika tidak ada respon dari lingkungan untuk memberi pencegahan pada anak. Jadi lingkungan juga harus memberikan pencegahan pada perilaku anak sehingga anak tidak melakukan lagi perilaku menyakiti diri ini.

D.  Masalah Pendidikan Yang Dihadapi
            Berbagai masalah dalam pendidikan tentu saja terganggu pada anak-anak yang mengalami perilaku menyakiti diri ini, baik perilaku menyakiti diri dalam taraf ringan atau berat. Berbagai masalah pendidikan yang dihadapi merupakan akibat dari terganggunya emosi mereka. Sebagian anak yang melakukan perilaku ini tentu memiliki perasaan yang kacau seperti merasa tidak  berguna lagi,  cemas,takut, dan juga rasa bersalah. Hal tersebut akan mempengaruhi pada prosesbelajarnya karena terganggunya konsentrasi pada anak sebagai akibat dari  teralihkannya konsentrasi pada rasa-rasa yang membuatnya ingin melakukan


perilaku menyakiti diri sendiri ini.
            Terganggunya konsentrasi ini menyebabkan anak menjadi tidak fokus dalam pembelajaran. Sehingga hal ini menyebabkan prestasi anak cenderung menurun karena tidak dapat menyerap pembelajaran yang diberikan. Pada kasus yang berat bahkan anak tidak dapat melakukan pembelajaran karena disebabkan perilaku menyakiti diri dengan intensitas yang tinggi.

E.  Pengendalian Perilaku Menyakiti Diri Sendiri
            Berbagai cara telah dilakukan untuk mengendalikan perilaku menyakiti diri sendiri ini dari pemberian obat-obatan, pengekangan fisik, pencabutan gigi dan operasi. Namun, cara yang sering dipakai adalah penggunaan kontingensi antara penguat dan hukuman, karena cara yang lain dianggap tidak menunjukkan hasil dalam pengendalian perilaku menyakiti diri sendiri. Pada dekade 60-an mulai digunakan pendekatan behavioristik untuk mengendalikan perilaku menyakiti diri ini. Teknik yang dicoba adalah time out, dan gabungan antara tertentu, teknik ini menunjukkan efektivitasannya dalam menurunkan frekuensi munculnya perilaku yang dimaksud. Namun, juga banyak kasus yang tidak dapat tertangani, terutama pada kasus tingkat berat dan malah dapat membahayakan keselamatan anak.
            Satu teknik dengan penggunaan electric shock sebagai hukuman berhasil menghentikan perilaku SIB secara langsung, bahkan dalam kasus yang berat. Namun, teknik ini mendapat kritikan karena efeknya cenderung terbatas pada lingkungan terapi, dan menimbulkan rasa cemas pada tenaga terapi. Penggunaan kapsul ammonia dan penyemprotan zat asam juga dinilai efektifannya hanya pada setting tertentu.
            N.Azrin (dalam Sunardi, 1995: 121) mengemukakan seperangkat prosedur untuk penanganan perilaku menyakiti diri ini yang merupakan kombinasi dari beberapa teknik. Penanganan perilaku yang dikembangkan oleh Arzim meliputi :
1. Pemberian penguat positif  bagi  kegiatan yang  diarahkan  ke luar  (outward directed  activites). Penanganan perilaku ini dengan memberikan perhatian, pujian, makanan, mainan, dan hadiah lain disediakan bagi perilaku yang pantas dan tidak berbahaya. 2. Relaksasi wajib (required relaxation). Begitu muncul SIB, anak diberikan pengertian bahwa mereka terlalu aktif dan banyak bergerak dan diperintahkan untuk  beristirahat di tempat tidur. Anak  secara halus dibimbing ke tempat tidur, berbaring dengan kedua tangan disamping selama dua jam. 3. Pengendalian tangan. Begitu terjadi perilaku menyakiti diri sendiri pada anak, anak diharuskan melakukan latihan tangan (misalnya merentangkan tangan kesamping, kebawah, ke atas, berputar kesamping, kemudian di atas kepala) selama 30 menit. 4. Pelatihan pengendalian tangan. Anak diperintahkan untuk menjauhkan tangan dari kepaladan melakukan berbagai aktifitas yang tidak berbahaya dengan menggunakan tangan. Isyarat, memegang, menunjuk, dsb dipakai bersama-sama dengan perintah lisan jika perlu, dan penguat positif diberikan setelah anak tidak lagi menunjukkan perilaku melukai diri sendiri dengan tangan.
            Prosedur yang disarankan oleh Azrin ini telah dicobakan dengan penyandang perilaku menyaakiti diri sendiri dengan rentang karakteristik yang bervariasi. Dengan hasil yang positif pada saat uji coba, prosedur ini akan mempunyai nilai kemamputerapan yang luas. Dari pemaparan prosedur ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penanganan perilaku menyakiti diri sendiri ini dengan memberikan penguat positif yang dapat berupa perhatian, atau pun pujian pada anak; memberikan kenyamanan pada anak, dan mengalihkan perhatian anak saat mereka mulai melakukan perilaku menyakiti diri ini. Dengan begitu perhatian pada anak akan teralih pada kegiatan positif yang mereka lakukan dengan pengarahan tenaga terapi tersebut. Pemberian kenyamanan juga dimaksudkan untuk membuat anak menjadi nyaman sehingga terhindar dari perasaan yang menyebabkan perilaku tersebut.






PENUTUP

Kesimpulan
            Dari pembahasan tentang perilaku menyakiti diri sendiri ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Perilaku menyakiti diri sendiri adalah perilaku yang disengaja untuk melukai diri sendiri pada seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga mengakibatkan luka tubuh.
2.      Akibat yang ditimbulkan dari perilaku menyakiti diri sendiri ini bervariasi dari yang berakibat ringan dan tidak menampakkan bekas luka, ataupun berakibat berat yang dapat menyebabkan luka permanen.
3.      Perilaku menyakiti diri sendiri ini disebabkan karena bebarapa faktor yaitu faktor biologis, psikodinamika, ataupun behavioristik.
4.      Masalah pendidikan yang dihadapi ialah karena teralihkannya konsentrasi belajar pada rasa yang mendorong anak untuk melukai dirinya.
5.      Pengendalian perilaku ini dapat dengan memberikan penguat positif pada anak seperti pujian, memberikan kenyamanan pada anak, ataupun dengan mengalihkan perhatian anak pada kegiatan-kegiatan yang tidak membahayakan dirinya.
 
                                    


DAFTAR PUSTAKA
Sunardi. 1995. Ortopedagogik Anak Tunalaras I. Surakarta. Departemen Pendidikan Kebudayaan.

Ibrahim Nafsiah dan Aldy Rohanah. 1996. Etiologi dan Terapi Anak Tunalaras. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pendidikan Tenaga Guru.

Viora, Ika. Bunuh Diri dan Upaya Pencegahannya. Diunduh dari: http://novariyantiyusuf.net/konsultasi-online/187-bunuh-diri-dan-upaya-pencegahan.html.  Diakses pada tanggal 29 April 2012 pukul 02.00 WIB.
 

0 komentar:

Poskan Komentar